Air Limbah Tahu Disulap jadi Gas

limbah tahu jadi gas

Naiknya harga LPG 12 kilogram membuat sejumlah pengusaha kecil dan menengah kelabakan. Tak sedikit dari mereka yang terpaksa beralih menggunakan tabung LPG 3 kilogram, yang sudah disubsidi oleh pemerintah.
Sayangnya, karena permintaan yang cukup banyak dan stock LPG 3 kilogram yang terbatas, membuat si melon langka di pasaran. Menyikapi problema seperti itu salah seorang teknokrat asal Wado, Ir H Surahman M.Tech, M.Eng, melakukan uji coba penelitian untuk memanfaatkan limbah industri agar dapat diberdayagunakan.

Surahman pun memilih limbah industri, tahu untuk dijadikan ladang hipotesanya.
“Kenapa saya pilih limbah tahu sebagai salahsatu alternatif dari LPG yang sekarang naik, karena limbah tahu. Apalagi Sumedang sebagai kota tahu, itu banyak dan kerap dibuang, padahal itu bisa dimanfaatkan dan dipergunakan untuk bahan bakar gas,” kata Surahman dihubungi Sumeks melalui selulernya, semalam.
Lebih lanjut ia mengatakan, limbah tahu yang diambil sebagai bahan pembuat bahan bakar gas itu adalah air dari gilingan limbah tahu.

“Airnya, pasti orang tidak menyangka itu akan bermanfaat,” imbuhnya.
Padahal sebut dia, air limbah gilingan tahu tersebut mengandung zat asam, prosesnya seperti permentasi ketika seseorang membuat peuyeum.

“Air limbah yang digunakan itu mengandung asam. Biogas ini adalah campuran gas yng dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerob. Pada umumnya biogas terdiri atas gas metan (CH₄) 50-70% gas karbon dioksida (CO₂) 30-40%, hidrogen (H₂) 5-10% dan gas-gas ynag lainya dalam jumlah sedikit.Teknisnya, nanti kita jelaskan kalau mau praktik. Tapi intinya, dalam satu tangki ukuran 170 liter, cukup kita tambahkan air limbahnya itu 80 liter saja, jadi setengahnya,” jelasnya.

Penelitiannya menyebutkan, biogas yang dihasilkan dari air limbah tahu ini kira-kira memiliki berat 20 % lebih ringan dibandingkan udara, biogas memiliki suhu pemakaran antara 650-750°C biogas tidak berbau dan berwarna. Nilai kalor gas metana adalah 20 Mj/m³ dengan efesiensi pembakaran 60% pada konvensional kompor biogas.
Air limbah gilingan tahu yang sudah masuk dalam tangki tersebut kemudian didiamkan untuk proses permentasi selama 30 hari. Selama itu, ia menghasilkan bahan bakar hingga 25 kilobar. Setelah 30 hari, bahan bakar yang terbuat dari air limbah gilingan tahu tersebut dapat dipergunakan untuk memasak.

“Kalau gasnya sudah hampir habis, bisa ditambahkan lagi. Air limbah gilingan, kalau setelah 30 hari itu. Cukup sehari itu 2 liter saja per satu tangki.”
“Kalau di Sumedang kan para pengusaha (tahu) nya sudah berskala besar. Maka teknologi rekayasa semacam ini bisa digunakan, lebih irit daripada dengan menggunakan gas biasa,” terangnya.
Selain itu, kata Surahman, karena bahan bakar gas yang dikeluarkan dari air limbah gilingan tahu itu, hanya mengandung gas metan (CH4) maka ia memastikan tidak akan meledak.
“Memang keamanannya bisa terjamin, walaupun didekatkan itu tak sampai meledak,” terangnya.

Proses pembuatan biogas dari limbah industri Tahu: Siapkan bahan berupa limbah cair dari industri pembuatan tahu sebanyak 200 liter, dan masukan dalam bak penampungan, tunggu hingga dingin, Masukan bahan tersebut ke dalam bak yang menghubungkan dengan lubang digetser hingga penuh. Diamkan selama 30-40 hari agar gas yang diinginkan terbentuk, untuk mendeteksi adanya gas, hubungkan gas dengan kompor, lalu nyalakan. Jika menyala berarti sudahterbentuk biogas sehingga sudah dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Supaya produk gas dapat digunakan setiap hari tambahkan 10 kg limbah setiap hari.

Sumber: sumedangonline.com

Advertisements