Category: Sumedang


Air Limbah Tahu Disulap jadi Gas

limbah tahu jadi gas

Naiknya harga LPG 12 kilogram membuat sejumlah pengusaha kecil dan menengah kelabakan. Tak sedikit dari mereka yang terpaksa beralih menggunakan tabung LPG 3 kilogram, yang sudah disubsidi oleh pemerintah.
Sayangnya, karena permintaan yang cukup banyak dan stock LPG 3 kilogram yang terbatas, membuat si melon langka di pasaran. Menyikapi problema seperti itu salah seorang teknokrat asal Wado, Ir H Surahman M.Tech, M.Eng, melakukan uji coba penelitian untuk memanfaatkan limbah industri agar dapat diberdayagunakan.

Surahman pun memilih limbah industri, tahu untuk dijadikan ladang hipotesanya.
“Kenapa saya pilih limbah tahu sebagai salahsatu alternatif dari LPG yang sekarang naik, karena limbah tahu. Apalagi Sumedang sebagai kota tahu, itu banyak dan kerap dibuang, padahal itu bisa dimanfaatkan dan dipergunakan untuk bahan bakar gas,” kata Surahman dihubungi Sumeks melalui selulernya, semalam.
Lebih lanjut ia mengatakan, limbah tahu yang diambil sebagai bahan pembuat bahan bakar gas itu adalah air dari gilingan limbah tahu.

“Airnya, pasti orang tidak menyangka itu akan bermanfaat,” imbuhnya.
Padahal sebut dia, air limbah gilingan tahu tersebut mengandung zat asam, prosesnya seperti permentasi ketika seseorang membuat peuyeum.

“Air limbah yang digunakan itu mengandung asam. Biogas ini adalah campuran gas yng dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerob. Pada umumnya biogas terdiri atas gas metan (CH₄) 50-70% gas karbon dioksida (CO₂) 30-40%, hidrogen (H₂) 5-10% dan gas-gas ynag lainya dalam jumlah sedikit.Teknisnya, nanti kita jelaskan kalau mau praktik. Tapi intinya, dalam satu tangki ukuran 170 liter, cukup kita tambahkan air limbahnya itu 80 liter saja, jadi setengahnya,” jelasnya.

Penelitiannya menyebutkan, biogas yang dihasilkan dari air limbah tahu ini kira-kira memiliki berat 20 % lebih ringan dibandingkan udara, biogas memiliki suhu pemakaran antara 650-750°C biogas tidak berbau dan berwarna. Nilai kalor gas metana adalah 20 Mj/m³ dengan efesiensi pembakaran 60% pada konvensional kompor biogas.
Air limbah gilingan tahu yang sudah masuk dalam tangki tersebut kemudian didiamkan untuk proses permentasi selama 30 hari. Selama itu, ia menghasilkan bahan bakar hingga 25 kilobar. Setelah 30 hari, bahan bakar yang terbuat dari air limbah gilingan tahu tersebut dapat dipergunakan untuk memasak.

“Kalau gasnya sudah hampir habis, bisa ditambahkan lagi. Air limbah gilingan, kalau setelah 30 hari itu. Cukup sehari itu 2 liter saja per satu tangki.”
“Kalau di Sumedang kan para pengusaha (tahu) nya sudah berskala besar. Maka teknologi rekayasa semacam ini bisa digunakan, lebih irit daripada dengan menggunakan gas biasa,” terangnya.
Selain itu, kata Surahman, karena bahan bakar gas yang dikeluarkan dari air limbah gilingan tahu itu, hanya mengandung gas metan (CH4) maka ia memastikan tidak akan meledak.
“Memang keamanannya bisa terjamin, walaupun didekatkan itu tak sampai meledak,” terangnya.

Proses pembuatan biogas dari limbah industri Tahu: Siapkan bahan berupa limbah cair dari industri pembuatan tahu sebanyak 200 liter, dan masukan dalam bak penampungan, tunggu hingga dingin, Masukan bahan tersebut ke dalam bak yang menghubungkan dengan lubang digetser hingga penuh. Diamkan selama 30-40 hari agar gas yang diinginkan terbentuk, untuk mendeteksi adanya gas, hubungkan gas dengan kompor, lalu nyalakan. Jika menyala berarti sudahterbentuk biogas sehingga sudah dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Supaya produk gas dapat digunakan setiap hari tambahkan 10 kg limbah setiap hari.

Sumber: sumedangonline.com

Advertisements

Pemerintah Desa Genteng Sumedang Layani 24 Jam

SUKASARI-Sumedang. Salah satu bentuk pelayanan prima Desa Genteng Kecamatan Sukasari berupa layanan 24 jam. Layanan tersebut merupakan implementasi dari kebutuhan masyarakat yang tak terukur waktu dan tempat.

Kades Genteng, Komara ST mengakatakan, siapapun warga Desa Genteng bisa menghubungi staf dan aparat desa jika membutuhkan pelayanan. Solusinya, dia menginstruksikan aparatur desa tetap siaga dalam memberikan pelayanan kendati diluar jam kerja.
“Kantor Kepala Desa Genteng, berada dikawasan hutan lindung milik Pemprov Jabar. Bahkan, jarak tempuh menuju kantor desa dengan pemukiman warga terbilang cukup jauh. Nah, solusi pelayanan 24 jam tersebut upaya menjawab kebutuhan warga terkait pelayanan Pemdes Genteng,” kata Komara kepada wartawan di Kantor Desa Genteng. Sehingga, ujar Komara menambahkan, semua staf Desa Genteng diwajibkan melayani masyarakt tak terukur waktu jika memang membutuhkan layanan.

“Pelayanan Pemdes itu tak hanya bisa dilakukan di Kantor Desa saja. Rumah atau tempat tinggal staf Pemdes atau pun Kades, bisa saja menjadi lokasi pelayanan. Taka da yang ribet jika masyarakat membutuhkan pelayanan khususnya di Pemdes Genteng,” ucapnya.
Kecamatan Sukasari, kata dia, salah satu desa yang lokasinya terpencil. Disana, kata dia, minim pasilitas umum seperti Kantor Polsek, bangunan SMA Negeri dan kantor Satuan Organisasi Perangkat Dinas (SOPD). (Asnur forkowas)

Sumber: sumedangonline

Jalan Di Kabupaten Sumedang Diperbaiki (Lagi) ?Jalan Rusak Sumedang

Selagi perjalanan penulis menuju bandung (10 September 2014) tiba-tiba  jalan sebelum daerah Cadas Pangeran macet parah, dugaan awal mungkin ada kecelakaan atau truk mogok yang menutupi jalan, ternyata macet diakibatkan oleh perbaikan jalan yang sedang dilakukan. Pertanyaan pun muncul kenapa jalan yang masih bagus sudah diaspal kembali??? Ya, hal ini memang tidak biasa, semenjak penulis sering melewati jalan Sumedang-Bandung mulai tahun 2005 ketika pulang-pergi kuliah di Unpad Jatinangor, perbaikan jalan akan dilakukan ketika jalan sudah rusak, bahkan menunggu jalan rusak parah, tapi saat ini perbaikan jalan atau tepatnya pengaspalan jalan dilakukan ketika jalan masih “mulus”, hal yang aneh namun membawa kebaikan. Semoga hal ini menjadi pertanda baik bahwa pemerintah melakukan pemeliharaan jalan setiap saat dan jalan akan diperbaiki(di aspal) sebelum jalan tersebut rusak parah.

Sehingga keluhan masyarakat mengenai jalan yang rusak atau bahkan penggalangan sejuta koin yang beberapa saat lalu dilakukan oleh sebagian masyarakat Sumedang sebagai bentuk kritik kepada pemerintah tidak akan terulang kembali.

 

Biaya Nikah di KUA Sumedang Rp 0

 

Pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) tentang tarif biaya nikah yang baru. Aturan baru tarif pencatatan nikah itu tertuang dalam PP 48/2014, tentang perubahan atas PP 47/2004, tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak di Lingkungan Kementerian Agama.

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sumedang, Drs. H. Cece Hidayat M.S.i, membenarkan tentang adanya PP tersebut. Ia mengatakan diharapkan dengan hadirnya PP itu tidak ada lagi kisruh terkait biaya nikah karena telah jelas besaran biayanya. “Hadirnya PP 48 tahun 2014 ini tidak ada lagi kisruh terkait biaya nikah yang selama ini sering dikeluhkan oleh masyarakat. Karena di situ sudah jelas besaran biayanya,” ujar Cece.

Cece menambahkan, di dalam PP itu juga disebutkan bagi yang menikah di kantor urusan agama selama jam kerja akan dikenakan biaya Rp. 0, sedangkan bagi pengantin yang ingin melaksanakan akad pernikahan di luar kantor urusan agama, dikenakan biaya Rp 600.000 dengan cara mentransfer biaya tersebut ke rekening bank yang sudah ditentukan.

“Dalam PP tersebut juga disebutkan, bahwa nikah di KUA itu akan dikenakan biaya sebesar Rp. 0 atau dengan kata lain gratis. Sedangkan, bagi yang ingin melangsunhkan pernikahan di luar KUA itu dikenakan biaya sebesar Rp. 600.000,” tambahnya. Cece mengatakan, hal yang perlu diketahui oleh masyarakat adalah ketika pelaksanaan pernikahan di luar KUA harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 600.000 menurut Cece hal tersebut diluar ketentuan KUA.

“Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat adalah ketika melangsungkan pernikahan di luar KUA, ternyata masyarakat mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 600.000 hal tersebut bukan ketentuan dari kemenag.,” katanya. Ia mengimbau masyarakat yang ingin melaksanakan pernikahan tanpa mengeluarkan biaya lebih, masyarakat tinggal mengurusnya sendiri ke kantor urusan agama setempat. Terkecuali, apabila masyarakat tersebut mempunyai halangan sehingga tidak bisa mengurusnya, masyarakat terpaksa menggunakan jasa pihak lain yang otomatis mengeluarkan biaya tambahan. Namun, Cece menegaskan, biaya tambahan tersebut di luar ketentuan kemenag.

“Bagi masyarakat yang ingin menikah dengan gratis, silahkan datang ke KUA setempat. Ketika tidak bisa datang ke KUA karena suatu kesibukan atau masyarakat memiliki keinginan sendiri menikah diluar KUA, silahkan saja. Tapi, ketika masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih, kami tegaskan itu diluar ketentuan kami. Karena mau tidak mau masyarakat pasti mengeluarkan biaya lebih ketika melibatkan pihak ketiga,” pungkasnya.

Sumber: sumedangonline.com

Profil Kabupaten Sumedang: Topografis

Wilayah Kabupaten Sumedang tersebar dalam 26 Kecamatan. Kabupaten Sumedang merupakan daerah berbukit dan gunung dengan ketinggian tempat antara 25 m – 1.667 m diatas permukaan laut. Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.667 m), berada di Utara Perkotaan Sumedang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Kelompok Ketinggian dari Permukaan Laut Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumedang Tahun 2009

No.

Kecamatan

Ketinggian dari Permukaan Laut (m)

25 – 50

51 – 75

76 – 100

101 – 500

501 – 1000

> 1000

1

Jatinangor

2.874,00

2

Cimanggung

1.969,00

1.854,73

3

Tanjungsari

5.168,77

7.059,27

4

Sukasari

NR

NR

NR

NR

NR

NR

5

Pamulihan

NR

NR

NR

NR

NR

NR

6

Rancakalong

6.629,85

1.065,53

7

Sumedang Selatan

1.326,62

6.989,98

3.290,45

8

Sumedang Utara

2.374,66

2.037,11

9

Ganeas

NR

NR

NR

NR

NR

NR

10

Situraja

7.226,38

1.779,46

24,37

11

Cisitu

12

Darmaraja

4.980,25

2.347,20

479,12

13

Cibugel

896,34

3.008,26

1.087,29

14

Wado

5.924,05

4.245,31

1.517,55

15

Jatinunggal

NR

NR

NR

NR

NR

NR

16

Jatigede

11.666,04

17

Tomo

2.256,71

2.099,34

1.325,40

1.889,28

18

Ujungjaya

3.601,34

2.489,30

1.417,88

498,33

19

Conggeang

209,48

855,31

8.225,47

1.147,68

95,47

20

Paseh

2.036,81

692,19

21

Cimalaka

1.913,36

4.377,47

432,81

22

Cisarua

NR

NR

NR

NR

NR

NR

23

Tanjungkerta

5.573,59

4.056,55

24

Tanjungmedar

NR

NR

NR

NR

NR

NR

25

Buahdua

875,42

3.696,23

12.033,57

1.141,38

558,19

26

Surian

Jumlah

5.858,05

5.673,54

7.294,82

66.564,55

49.364,21

17.464,78

Sumber                : Kab. Sumedang dalam Angka Tahun 2010

Keterangan        : NR = Data tidak tersedia

                Kondisi topografi wilayah Kabupaten Sumedang sangat variatif , mulai dari permukaan datar sampai bergunung, dengan ketinggian terletak antara 20 sampai 1000 di atas permukaan laut. Berdasarkan rata-rata 43,73 persen wilayah Kabupaten Sumedang terletak pada kisaran ketinggian 501 – 1000 m dpl. Gunung Tampomas (1.684 m) berada di utara Sumedang. Secara umum klasifikasi kelas ketinggian wilayah Kabupaten Sumedang dapat dibagi atas :

  • 20 – 100 meter dpl, meliputi :

Sebagian besar wilayah Kecamatan Tomo serta Kecamatan Ujungjaya serta sebagian kecil bagian utara Kecamatan Buahdua dan Kecamatan Surian.

  • 101 – 500 meter dpl, meliputi :

Sebagian besar Kecamatan Surian, Buahdua, Conggeang, Paseh, Tanjungkerta, Situraja, Cisitu, Jatigede dan Kecamatan Jatinunggal, serta sebagian kecil wilayah Kecamatan Wado, Darmaraja, Sumedang Utara, Sumedang Selatan dan Kecamatan Tanjungmedar.

  • 501 – 1000 meter dpl, meliputi :

Sebagian besar wilayah Kecamatan Cimalaka, Cisarua, Sumedang Utara, Sumedang Selatan, Tanjungmedar, Rancakalong, Pamulihan, Tanjungsari, Jatinunggal, Cimanggung, Paseh dan Cibugel, serta sebagian kecil wilayah Kecamatan Tanjungkerta, Buahdua, Conggeang dan Kecamatan Wado.

  • Lebih dari 1000 meter dpl, meliputi :

Sebagian besar wilayah Kecamatan Sukasari, Cimanggung dan Cibugel, serta sebagian kecil wilayah Kecamatan Rancakalong, Pamulihan, Sumedang Selatan, Situraja, Darmaraja, Wado, Paseh, Conggeang, Buahdua dan Cimalaka yang merupakan puncak Gunung Tampomas.

Sedangkan untuk kemiringan lereng dinyatakan dalam derajat atau persen.Kemiringan lereng merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi besarnya erosi.  Selain memperbesar jumlah aliran permukaan, makin curamnya lereng juga memperbesar kecepatan aliran permukaan yang selanjutnya memperbesar energi angkut air.  Jika lereng permukaan tanah menjadi dua kali lebih curam  maka banyaknya erosi persatuan luas akan menjadi 2.0 – 2.5 kali lebih banyak.

Berdasarkan Gambar 2.4. diketahui kelas kemiringan lereng yang terjadi di Kabupaten Sumedang terdiri dari klas 1(satu) hingga klas 6 (enam).  Klas kemiringan lereng yang dominan di Kabupaten Sumedang adalah klas 4, sedangkan  klas 1, 2 dan 3 nampak seimbang, kemudian kemiringan yang paling sedikit adalah klas kemiringan  6 (enam).  Semakin tinggi klas kemiringan lereng maka akan semakin besar pula  kemungkinan terjadinya erosi yang akan mempengaruhi tingkat sedimentasi.

  1. 0 – 8%, merupakan daerah datar hingga berombak dengan luas area sekitar 8,24%. Kemiringan wilayah dengan tipe ini dominan di bagian timur laut Kabupaten Sumedang yaitu pada Kecamatan Ujungjaya, Tomo dan sebagian dari Kecamatan Conggeang, Kecamatan Surian pada bagian utaranya.
  2. 8 – 15%, merupakan daerah berombak sampai bergelombang dengan area sekitar 8,37%. Wilayah Kabupaten Sumedang yang dominan dengan kemiringan tipe ini terletak di bagian tengah dan utara, bagian barat laut serta bagian barat daya yaitu pada bagian selatan Kecamatan Surian dan Kecamatan Conggeang.
  3. 15 – 25%, merupakan daerah bergelombang sampai berbukit dengan komposisi area mencakup 46,38%. Kemiringan lereng tipe ini paling dominan di Wilayah Kabupaten Sumedang, persebarannya berada di bagian tengah sampai ke tenggara, bagian selatan sampai barat daya dan bagian barat yaitu pada Kecamatan Tanjungmedar, Tanjungkerta, Buahdua, Paseh, Cimalaka, Cisarua, Cisitu, Situraja, Sumedang Utara, Jatinunggal dan Kecamatan Jatigede.
  4. 25 – 45%, merupakan daerah berbukit sampai bergunung dengan luas area sekitar 21,58%. Kemiringan lereng tipe ini dominan di wilayah Kabupaten Sumedang bagian tengah, bagian selatan dan bagian timur yaitu Kecamatan Cimanggung, Jatinangor, Pamulihan, Ganeas, Cibugel, Sumedang Selatan, dan pada bagian selatan Kecamatan Wado.
  5. 45-60%, merupakan daerah bergunung dengan luas area sekitar 18% yang dominan di wilayah Kabupaten Sumedang bagian selatan, bagian timur serta bagian barat yaitu pada Kecamatan Sukasari, Cimanggung dan Kecamatan Wado.
  6. >60%, merupakan daerah terjal dan mempunyai area di sekitar pegunungan yang berada di sekitar Kabupaten Sumedang seluas 1,43%. Kemiringan ini berada pada Kecamatan Surian, Cimanggung, Cibugel dan Kecamatan Wado.

Sumber: Bappeda Kab. Sumedang

Profil Kabupaten Sumedang

 

Kabupaten Sumedang merupakan salah satu dari 35 daerah otonom di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sumedang terletak antara 6o44’ – 70o83’ Lintang Selatan dan antara 107o21’ – 108o21’ Bujur Timur. Kabupaten Sumedang memiliki batas wilayah administratif sebagai berikut:

Sebelah Utara        :    Kabupaten Indramayu

Sebelah Timur       :    Kabupaten Majalengka

Sebelah Selatan     :    Kabupaten Garut

Sebelah Barat        :   Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang.

Luas wilayah administrasi tercatat sebesar 152.220 Ha, dengan luas wilayah yang terbesar adalah Kecamatan Buahdua, yaitu seluas 13.137 Ha atau 8,63 % dari luas Kabupaten Sumedang secara keseluruhan. Sedangkan luas wilayah terendah adalah Kecamatan Cisarua, luas wilayahnya sebesar 1.892 Ha atau 1,24 % dari luas Kabupaten Sumedang secara keseluruhan. Secara administrasi, Kabupaten Sumedang terbagi dalam 26 kecamatan dan 272 desa dan 7 kelurahan. Untuk melihat luas masing-masing kecamatan di Kabupaten Sumedang dapat dilihat dalam Tabel berikut :

 

Luas  Daerah Dirinci Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumedang Tahun 2009

 

No

Kecamatan

Luas Daerah

(Ha)

Desa atau Kelurahan

Persen tase

Jumlah

Desa

1

Jatinangor

2.620

Cikeruh, Hegarmanah, Cibeusi, Cipacing, Sayang, Mekargalih, Cintamulya, Jatimukti, Cisempur, Jatiroke, Cileles, dan Cilayung

1,72 %

12

2

Cimanggung

4.076

Cimanggung, Sindangpakuon, Tegalmanggung, Sindulang, Sindanggalih, Sawahdadap, Cikahuripan, Sukadana, Mangunarga, Cihanjuang, dan Pasirnanjung

2,68 %

11

3

Tanjungsari

3.562

Gudang, Tanjungsari, Jatisari, Margaluyu, Kutamandiri, Margajaya, Raharja, Cijambu, Pasigaran, Gunungmanik, Kadakajaya, dan Cinanjung

2,34 %

12

4

Sukasari

4.712

Sukasari, Genteng, Banyuresmi, Nanggerang, Mekarsari, Sindangsari dan Sukarapih

3,09 %

7

5

Pamulihan

5.785

Cigendel, Cijeruk, Pamulihan, Haurngombong, Cilembu, Cimarias, Cinanggerang, Mekarbakti, Sukawangi, Ciptasari, dan Citali

3,80 %

11

6

Rancakalong

5.228

Nagarawangi, Cibunar, Pangadegan, Sukahayu, Sukamaju, Pamekaran, Rancakalong, Sukasirnarasa, Cibungur dan Pasirbiru

 3,43 %

10

7

Sumedang

Selatan

11.737

Pasanggrahan Baru, Kotakulon, Regolwetan, Cipameungpeuk, Sukagalih, Baginda, Cipancar, Citengah, Gunasari, Sukajaya, Margamekar, Ciherang, Margalaksana dan Mekar Rahayu

 7,71%

14

8

Sumedang Utara

2.826

Kotakaler, Situ, Talun, Padasuka, Mulyasari, Girimukti, Mekarjaya, Margamukti, Sinarmulya, Kebonjati, Jatihurip, Jatimulya dan Rancamulya

1,86 %

13

9

Ganeas

2.136

Ganeas, Dayeuh Luhur, Cikoneng, Sukaluyu, Sukawening, Tanjunghurip dan Cikondang

1,40 %

7

10

Situraja

5.403

Situraja Utara, Situraja, Mekarmulya, Cikadu, Bangbayang, Kaduwulung, Karangheuleut, Cijeler, Ambit, Jatimekar, Cijati, Wanakerta, Malaka dan Sukatali

3,55 %

14

11

Cisitu

5.331

Cisitu, Situmekar, Pajagan, Cigintung, Sundamekar, Linggajaya, Ranjeng, Cilopang, Cimarga dan Cinangsi

3,50 %

10

12

Darmaraja

5.494

Darmaraja, Darmajaya, Sukamenak, Leuwihideung, Sukaratu, Cikeusi, Cipeuteuy, Jatibungur, Cieunteung, Karangpakuan, Pakualam, Cibogo, Neglasari, Cipaku, Tarunajaya dan Ranggon

3,61 %

16

13

Cibugel

4.880

Jayamekar, Buanamekar, Cibugel, Sukaraja, Cipasang, Tamansari dan Jayamandiri

3,21 %

7

14

Wado

7.642

Cimungkal, Ganjarresik, Cilengkrang, Cikareo Selatan, Cikareo Utara, Wado, Mulyajaya, Padajaya, Sukajadi, Cisurat dan Sukapura

5,02 %

11

15

Jatinunggal

6.149

Sirnasari, Tarikolot, Pawenang, Sarimekar, Banjarsari, Kirisik, Sukamanah, Cipeundeuy dan Cimanintin

4,04 %

9

16

Jatigede

11.197

Cijeungjing, Kadujaya, Lebaksiuh, Cintajaya, Cipicung, Mekarasih, Sukakersa, Ciranggem, Cisampih, Jemah, Karedok dan Kadu

7,36 %

12

17

Tomo

6.626

Tomo, Tolengas, Darmawangi, Marongge, Jembarwangi, Bugel, Cipeles, Karyamukti dan Cicarimanah

4,35 %

9

18

Ujungjaya

8.056

Ujungjaya, Palabuan, Palasari, Keboncau, Sakurjaya, Kudangwangi, Sukamulya, Cipelang dan Cibuluh

5,29 %

9

19

Conggeang

10.531

Conggeang Kulon, Conggeang Wetan, Cipamekar, Cibeureuyeuh, Jambu, Babakan Asem, Padaasih, Ungkal, Karanglayung, Cacaban, Narimbang dan Cibubuan

6,92 %

12

20

Paseh

3.437

Paseh Kidul, Paseh Kaler, Legok Kidul, Legok Kaler, Bongkok, Padanaan, Pasireungit, Cijambe, Haurkuning dan Citepok

2,26 %

10

21

Cimalaka

4.161

Cimalaka, Galudra, Cibeureum Kulon, Naluk, Nyalindung, Trunamanggala, Cikole, Cibeureum Wetan, Mandalaherang, Licin, Citimun, Serang, Padasari dan Cimuja

2,73 %

14

22

Cisarua

1.892

Cisarua, Ciuyah, Cimara, Bantarmara, Cipandanwangi, Cisalak dan Kebonkalapa

1,24 %

7

23

Tanjungkerta

4.014

Sukamantri, Cipanas, Gunturmekar, Mulyamekar, Banyuasih, Kertamekar, Kertaraharja, Cigentur, Tanjungmekar, Tanjungmulya dan Boros

2,64 %

11

24

Tanjungmedar

6.514

Cikaramas, Wargaluyu, Jingkang, Kamal, Kertamukti, Tanjungwangi, Sukamukti, Sukatani dan Tanjungmedar

4,28 %

9

25

Buahdua

13.137

Buahdua, Hariang, Karangbungur, Mekarmukti, Citaleus, Nagrak, Cibitung, Sekarwangi, Gendereh, Panyindangan, Cilangkap, Bojongloa, Cikurubuk dan Ciawitali

8,63 %

14

26

Surian

5.074

Wanasari, Wanajaya, Pamekarsari, Tanjung, Surian, Suriamedal, Suriamukti dan Ranggasari

3,34 %

8

Jumlah

152.220

279

100.00%

279

Sumber: Bappeda Kabupaten Sumedang

Peraturan Bupati Sumedang Nomor 113 Tahun 2009 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda

Unduh: di sini

Ketua KPU, Jadilah Pemilih Cerdas

 

KOTA – Ketua KPU Sumedang, Asep Kurnia, mengajak masyarakat Sumedang agar menjadi pemilih cerdas dan tak tergirur oleh politik uang. Hal itu dikatakan Asep dalam sebuah acara malam tahun baru di Mesid Agung Sumedang, Senin (31/12).

“Ketika jadi pemilih, carilah pemilih yang baik, karena selama ini berkembang rek rumasa lamun karasa atau siapa yang memberikan uang. Bahkan ada istilah Cilok Dikecapan yang artinya akan dicolok kalau ada gocapan. Akhirnya akan terjadi beli putus, itu yang harus kita hindari, karena masyarakat yang akan dirugikan dalam lima tahun ke depan,” kata Asep Kurnia dalam sambutannya.

Selain itu Asep pun mengingatk warga sumedang dapat mengecek, apakah dirinya sudah terdaftar atau belum dalam daftar pemilih sementara
“Pemilih harus jadi pemilih yang baik, lakukan pengecekan apakah saya ada atau tidak di DPS,” tambahnya.

Sementara itu menurut Ketua Pelaksana, Ace Saefulla, acara menyambut tahun baru 2013 sebagai bentuk perenungan dan penghisabab diri sebelum dihisab Allah.

Sumber: sumedangonline.com

Cabup Sumedang Dapat Nomor Urut

KOTA – Delapan pasangan calon (Paslon) Bupati dan wakil Bupati Sumedang, mendapat nomor urut. Setelah delapan calon tersebut mengambil undian dalam rapat pleno yang diselenggarakan di Pusdai Sumedang.
Berikut no urut calon berdasarkan rapat pleno terbuka KPU Sumedang:

1. Didi jamhir-Ridwan solihin
2. Eni Sumarni-Arrys Sudrajat
3. Agus-Mully MS
4. Ecek Karyana-Irwanto
5. Oom Supriatna-Erni Juwita
6. Taufiq Gunawansyah-Usep Komaruzzaman
7. Endang Sukandar-Ade Irawan
8. Tatang Sutarna-Hendrik Kurniawan

Dalam kesempatan itu, Ketua KPU Sumedang, Asep Kurnia, kembali mengingatkan para pendukung pasangan calon untuk memeriksa Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang sudah dicetak, termasuk juga para calon. “Jangan sampai protesnya nanti diakhir,” kata Asep.

Sumber: sumedangonline.com

 

KPU Sumedang Tetapkan 8 Calon

KOTA – KPU Sumedang menetapkan delapan bakal calon (balon) menjadi calon bupati dan wakil bupati Sumedang. Tiga calon diantaranya menurut Ketua KPU Sumedang, Asep Kurnia dari jalur perseorangan dan sisanya dari partai dan gabungan partai.
“KPU telah menetapkan 8 calon, 5 dari partai politik dan 3 dari perseorangan itu memenuhi syarat dan tadi sudah kita tetapkan menjadi calon bupati dan wakil bupati Sumedang, priode yang akan datang,” kata Asep Kurnia dalam jumpa pers usai penetapan calon di KPU Sumedang, Senin (17/12).

Selanjutnya, kata Asep, hari selasa besok akan dilakukan pengambilan nomor urut. “Kalau no dan calonnya sudah jelas kami akan mengumumkan secara resmi, termasuk upaya kita dalam menyosialisasikannya bahwa calonnya ini dan nomor urutnya ini,” tambahnya.

Asep pun menampik jika ke delapan calon tersebut dikatakan diloloskan KPU Sumedang. “KPU Sumedang tak bisa mengatakan ini diloloskan, tapi sepanjang memenuhi syarat dan aturan tak dilanggar tentu kita putuskan memenuhi syarat,” bebernya.

Ke-delapan calon tersebut yakni: Oom Supriatna dan Erni Juwita (Perseorangan); Eni Sumarni dan Arrys Sudrajat (Perseorangan); Ecek Karyana dan Irwanto (Perseorangan); Tatang Sutarna dan Hendrik Kurniawan (PAN, Hanura, Gerindra, PKB); Didi Ahmadi Djamhir dan Ridwan Solichin (PBB dan PKS); Agus Welianto Santoso dan Mully Mulyati Sukarya (PDI P); Endang Sukandar dan Ade Irawan (PPP dan Demokrat); Taufiq Gunawansyah dan Usep Komaruzzaman (Golkar).

Sumber: sumedangonline.com